Science Corner May 2016: Systematic Review? Apakah penting untuk dunia kedokteran?

Oleh Jaffray Pasereng R

Pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien harus berbasis pada fakta yang telah dibuktikan melalui sebuah penelitian dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Terdapat berbagai penelitian dalam bidang kesehatan yang telah dilakukan oleh para ahli dari seluruh dunia mengenai berbagai topik tertentu, akan tetapi bisa saja terjadi perbedaan hasil penelitian dari beberapa peneliti mengenai satu topik yang sama. Hal tersebut menyebabkan kebingungan dalam menentukan hasil penelitian yang paling tepat dan paling aman untuk diterapkan dalam dunia kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan sebuah metode untuk merangkum setiap hasil penelitian yang terkait untuk menentukan fakta yang komprehensif mengenai suatu topik tertentu, sehingga penyedia jasa kesehatan dapat memberikan pelayanan kesehatan yang sahih dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.1

Systematic review merupakan metode penelitian yang dapat digunakan untuk merangkum seluruh hasil-hasil penelitian primer serta untuk menyajikan fakta yang komprehensif dan berimbang. Systematic review dilakukan pula untuk mengidentifikasi ataupun mengevaluasi hasil penelitian yang terkait dengan pertanyaan penelitian ataupun topik penelitian tertentu. Perlu diketahui bahwa systematic review merupakan hal yang berbeda dengan literature review (traditional review), dimana literature review merupakan kumpulan fakta dari hasil penelitian yang bersifat naratif namun tidak sistematis serta sintesisnya tidak mengikuti cara baku dari pembuatan systematic review.1

Pembuatan systematic review dilakukan dengan mengikuti beberapa langkah berikut, yakni:1,2

  1. Mengidentifikasi pertanyaan penelitian. Terdapat banyak pertanyaan penelitian yang dapat dijadikan dasar dalam pembuatan systematic review, misalnya mengenai diagnosis penyakit yang paling efektif, penatalaksanaan penyakit yang paling aman dan lain sebagainya.
  2. Menentukan jenis penelitian yang termasuk kedalam kriteria untuk pembuatan systematic review. Hal ini bertujuan agar pencarian dapat dilakukan dengan lebih fokus dan tidak terlalu meluas.
  3. Menetapkan lokasi data-base hasil penelitian sebagai wilayah pencarian (Misalnya dari PubMed, Science direct dll). Hal ini dilakukan juga untuk memberikan batasan wilayah pencarian terhadap hasil penelitian yang relevan.
  4. Seleksi hasil-hasil penelitian yang relevan dengan pertanyaan penelitian.
  5. Memilih hasil-hasil penelitian yang berkualitas.
  6. Ekstraksi data dari setiap penelitian.
  7. Sintesis hasil dengan metode meta-analisis ataupun metode naratif.
  8. Penyajian data.

Systematic review sangat bermanfaat dalam dunia kesehatan. Dengan systematic review, berbagai pertanyaan dalam dunia kesehatan dapat terjawab. Misalnya apakah diperlukan penggunaan terapi akupuntur pada pasien osteoarthritis?. Sebelumnya terdapat penyedia jasa kesehatan yang pro dan kontra terhadap terapi akupuntur ini, akan tetapi setelah dilakukan berbagai penelitian terkait topik tersebut dan dirangkum dengan metode systematic review maka terjawablah bahwa terapi akupuntur ternyata dapat mengurangi rasa nyeri pada pasien osteoarthritis, meningkatkan ruang gerak sendi pasien serta aman untuk diterapkan pada pasien, sehingga setiap penyedia jasa kesehatan kini menyetujui pelaksanaan terapi tersebut karena telah sahih dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.3 Contoh tersebut menunjukkan bahwa systematic review termasuk hal yang sangat penting untuk mendukung perkembangan dunia kedokteran.

 

Sumber:

  1. Clarke J. What is a systematic review?. Evidence-Based Nursing. 2011;14(3):64-64.
  2. Khalid S Khan G. Five steps to conducting a systematic review. Journal of the Royal Society of Medicine [Internet]. 2003 [cited 28 July 2016];96(3):118. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC539417/
  3. Manyanga T, Froese M, Zarychanski R, Abou-Setta A, Friesen C, Tennenhouse M et al. Pain management with acupuncture in osteoarthritis: a systematic review and meta-analysis. BMC Complementary and Alternative Medicine. 2014;14(1):312.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *