Teh Hijau (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze), tanaman herbal dengan sejuta manfaat

Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) merupakan tanaman budidaya yang menjadi sumber bahan mentah minuman teh yang sering dikonsumsi oleh masyarakat di seluruh dunia, khususnya Indonesia. Saat ini, banyak spesies dari tanaman ini yang dibudidayakan secara komersial di Asia, Afrika dan Amerika Selatan. Tanaman teh (Camellia sinensis) tergolong dalam genus Camellia yang memiliki lebih dari 200 spesies dan merupakan tanaman asli daerah pegunungan Tibet, timur laut India dan Cina selatan. Indonesia sendiri merupakan salah satu 5 besar produsen teh terbanyak di dunia, dimana Indonesia menempati posisi ketiga bersama Vietnam dalam hal produksi teh hijau terbayak di dunia, yakni sekitar 5% rata-rata produksi global. Teh hijau berasal dari Camellia Sinensis (L.) O. Kuntze (Theaceae), sama seperti teh putih, teh olong dan teh hitam. Perbedaan antar jenis teh ini didasarkan atas proses pengolahannya dan tingkat oksidasi dan fermentasi yang mempengaruhi rasa dan aroma teh tersebut.1

Konsumsi teh secara teratur diketahui memiliki berbagai manfaat seperti peningkatan status antioksidan di dalam tubuh yang berperan dalam menurunkan angka kejadian kanker, penyakit jantung koroner, atherosclerosis, stroke, mengurangi inflamasi dan meningkatkan sensitivitas insulin. Berbagai manfaat yang diperoleh dari konsumsi teh ini berasal dari kandungan zat (phytochemical) di dalam teh itu sendiri, khususnya asam fenolat, flavonoid, catechin (C), epicatechin (EC), epicatechin-3-gallate (ECG), gallocatechin (GC), epigallocatechin (EGC) dan epigallocatechin-3-gallate (EGCG) dan turunan flavanol lainnya. Kandungan polifenol di dalam teh ini memberi manfaat melalui aktivitas “ pembersihan” radikal bebas , antioksidan dan metal complexing actions.1

Studi epidemiologi di Eropa mengungkapkan bahwa kandungan polifenol di dalam teh berperan sebagai antioksidan yang efektif, menghambat oksidasi kolesterol low-density lipoprotein (LDL) yang disebabkan oleh reactive oxygen spesies (ROS) yang dapat menuntun pada terjadinya atherogenesis. Selain itu, kandungan polifenol ini juga mampu berperan sebagai agen pencegah kanker. Para peneliti menemukan bahwa polifenol dapat menurunkan mutagenisitas dari berbagai tipe karsinogen. Misalnya dari berbagai percobaan yang dilakukan, ditemukan bahwa, teh menghambat pembentukan kanker kolon dan kelenjar mamae pada tikus serta menurunkan kejadi kanker esophagus pada percobaan dengan menggunakan hewan.Teh juga mampu menurunkan partumbuhan sel tumor melalui mekanisme yang melibatkan ekspresi gen. manfaat lain dari konsumsi teh terhadap kesehatan organ pencernaan adalah menekan pertumbuhan enterobacterioaceae yang sebagian besar memiliki sifat tidak menyenangkan karena menghasilkan zat kimia berbau busuk seperti skatole dan indole. Polifenol menekan pertumbuhan jenis bakteri ini tanpa memberikan efek samping bagi flora normal di dalam saluran usus.2

Zat catechin di dalam teh, yang merupakan komponen utama dalam flavonoid pada teh, menunjukkan adanya aktivitas antibakteri dan efek anti-toksik terhadap S.aureus. Di antara zat catechin lainnya yang terdapat di dalam the, EGCG dan ECG diketahui dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram positif dengan cakupan luas termasuk S.aureus serta bakteri gram negative. Kedua zat di atas juga dilaporkan memperlihatkan efek anti toksik seperti aktivitas anti-hemolysin melawan S.aureus α toxin. Untuk MRSA, kandungan catechin dalam the dilaporkan juga memiliki aktivitas antibakteri dan bekerja secara sinergis dengan antibiotic yang melawan MRSA.1

Teh hijau diketahui memiliki peran sebagai chemopreventor progesivitas tumor dan EGCG diklaim sebagai antioksidan teh yang paling poten. Teh hitam, yang merupakan teh dengan kandungan catechin lebih sedikit dan polifenol terpolimerisasi yang lebih banyak dianggap memiliki efek proteksi yang kurang poten dibandingkan dengan teh hijau.1

 

REFERENSI

  1. Preedy VR, editor. Tea in health and disease prevention. London ; Waltham, MA: Elsevier/Academic Press; 2013. 1573 p.
  2. Jain NK, Siddiqi M, Weisburger JH, editors. Protective effects of tea on human health. Wallingford, UK ; Cambridge, MA: CABI Pub; 2006. 211 p.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *