Learn from the Winner: Wawancara Science Corner bersama Matthew Billy

MB

Nama MatthewBilly pasti sudah tidak asing lagi di kalangan IKM FKUI. Ya, sosok pria tinggi berkacamata ini baru saja menjadi mahasiswa berpretasi (mapres) I FKUI 2015 sekaligus menjadi mapres utama Rumpun Ilmu Kesehatan (RIK) dalam ajang pemilihan mapres tingkat universitas. Selain prestasi tersebut, masih banyak segudang prestasi yang ia raih selama di FKUI. Pada Science Corner edisi ini, tim redaksi berkesempatan khusus mewawancarai Kak Billy. Harapannya, kita semua bisa terinspirasi dan mengikuti jejaknya agar terus berprestasi serta aktif menghasilkan karya. Yuk mari kita simak!

  1. Halo Kak Billy, bagaimana kabarnya? Sebelumnya selamat kak karena telah menjadi mapres I FKUI dan mapres utama RIK! Bisa diceritakan sedikit kak mengenai pengalaman Kak Billy meraih gelar tersebut?

Tentu saja, that is a really unforgettable experience for me, hehe. Pada ajang mapres ini, saya benar-benar dikagumkan oleh rencana Tuhan dan bantuan Tuhan yang luar biasa. Semakin merasa kalau Tuhan besar banget, dan saya kecil banget. Selain itu, ada juga teman- teman saya yang tanpa lelah membantu dan mendukung saya. Sekaligus, saya pada kesempatan ini, ingin say thanks banget buat segala kerja keras Pendpro, LPP, dan teman- teman FK semua. Kemenangan ini bukan kemenangan saya, tapi kemenangan FK bersama.

  1. Menurut Kak Billy, apa urgensi untuk membuat karya dan berpartisipasi dalam kompetisi keilmiahan?

Pertama, ini cara saya untuk menuangkan kesenangan saya. Undeniably, tidak semua orang suka membuat karya, tapi ini bisa dilatih kok. Analoginya sama saja seperti beberapa teman- teman yang tidak suka kedokteran saat awal masuk kedokteran. Mau gak mau, harus suka kan? Kedua, dengan membuat karya, kalian bisa share ide kalian lewat paper yang kalian buat. Ada pepatah yang mengatakan Pen is sharper than sword. Kalau mau mengubah kebijakan, perspektif, atau guideline, lewat paper lebih efektif, dibanding dengan sekadar orasi ataupun aksi. Lalu, mengapa harus ikut kompetisi? Tentu saja, di kompetisi atau conference adalah tempat dimana kita bisa melihat karya dan pemikiran orang lain, dan juga kita bisa belajar lebih banyak lagi, broaden our perspective tentunya…

  1. Apa saja keuntungan dan manfaat yang telah didapatkan oleh Kak Billy selama berpartisipasi dalam kompetisi keilmiahan?

Banyak. Pertama, bisa melihat karya dan ide orang lain, ya seperti yang tadi saya katakan broaden our perspective. Hal ini tentu saja agar membuat kita bisa lebih berwawasan dan makin terbuka terhadap ide-ide baru. Kedua, bisa travelling. Ketiga, meningkatkan networking ke medical student luar kota maupun luar negri. Keempat, ya tentunya bisa menang lah ya. Cukup prestigious lah menang. Kalau tidak pernah ikut, mana mungkin bisa menang? Hehe.

  1. Siapakah sosok senior FKUI yang paling menginspirasi Kak Billy untuk terus berprestasi?

Ada beberapa tentunya. Kalau senior, ada Kak Aldo 2009, mapres FK tahun 2012. Sering juga diskusi sama beliau tentang mapres dan hal – hal kecil tentang kebijakan dan masalah kesehatan. Satu kebiasaan yang saya suka dari Kak Aldo adalah post di Facebook tentang hal- hal kecil tapi bermakna. Jadi kalau diuji statistik, p  nya < 0.05. Just kidding! Intinya, hal- hal tersebut seperti kebijakan pemerintah atau kesehatan yang masih kurang.

  1. Kak Billy dikenal sebagai sosok yang jago dalam bidang akademis namun sangat aktif juga berorganisasi. Bagaimana Kak Billy tetap bisa membuat karya ataupun mempersiapkan lomba di tengah kesibukan yang sangat padat? Adakah tips khusus yang dimiliki Kak Billy?

Kalau dibilang saya orang yang bisa menyeimbangkan keduanya, sebenernya itu bohong, karena sejujurnya saya masih belajar juga. hehe

Pertama yang harus diingat adalah positive thinking bahwa yang nama keseimbangan paling baik. Beberapa orang berpikir mengutamakan akademik karena berpikir bahwa organisasi tidak ada gunanya, hanya membuang waktu saja. Beberapa terlalu mengutamakan organisasi dengan alasan lebih seru dan kadang menjadi ‘jalan keluar’ dari akademis yang sulit. Kalau saya, berpikir bahwa kedua hal tersebut bisa saling mengisi, akademis berguna bagi ilmu saya untuk menjadi Dokter yang sebagian besar fungsi dari otak kiri, organisasi bisa melatih softskill dan kreativitas which is fungsi dari otak kanan. Dengan demikian, lebih balanced antara otak kanan dan kiri yang mendukung profesi kita nantinya yaitu Dokter yang bukan hanya science, tapi juga ‘art’.

  1. Kebanyakan orang takut mengambil kesempatan lomba karena “takut gagal”. Bagaimana tanggapan kak billy tentang hal ini? Apakah Kak Billy juga pernah mengalami khusus menghadapi kegagalan?

Jangan liat hasilnya, tapi nikmati prosesnya. Kalau hasilnya kurang memuaskan setelah kita berusaha, ingat ini ya you have done our best, God do the rest. Jadi mau hasilnya seperti apa, terserah Tuhan biar berjalan sesuai dengan rencananya.

  1. Bagaimana cara memulai dan mengembangkan minat keilmiahan bagi kita yang tidak memiliki track record sama sekali? Atau bahkan bagi kita tidak memiliki ketertarikan sama sekali.

Tentu saja harus mau belajar, mandiri dan diskusi dengan senior yang sudah berpengalaman.

Untuk masalah yang tidak memiliki ketertarikan sebenarnya seperti yang tadi saya katakan. Analoginya sama aja kayak beberapa teman- teman yang tidak suka kedokteran saat awal masuk kedokteran. Mau gak mau, harus suka kan? Namun, tentu saja, untuk orang- orang yang tidak memiliki ketertarikan sama sekali, pasti kalian punya kertertarikan di tempat lain kan? Misalnya organisasi, leadership, fotografi, dan sebagainya. Kalian bisa maximize your true potential on your own area. Intinya, berprestasi di bidang kalian masing- masing.

  1. Masalah klasik bagi kebanyakan orang dalam membuat karya adalah: “Mau, tapi tidak tahu caranya” dan “Mau, tapi tidak ada ide?”. Adakah saran dari Kak Billy bagi kita yang menghadapi masalah ini?

Kalau tidak tahu caranya, solusinya adalah tanya teman atau senior yang sudah berpengalaman. Kalau masalah ide, usahakan untuk selalu update masalah kedokteran, baca jurnal- jurnal terkait. UI kan sudah berlangganan jurnal dari berbagai journal search engine dan database. Selain itu, brainstorming ide dengan teman atau senior. Intinya, if there is a will, there is a way.

 

 

Nah, semoga wawancara ini bisa memotivasi teman-teman semua ya untuk berkarya. Ingat pesan kak Matthew Billy, If there is a will, there is a way. Selamat berkarya – fadhian akbar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *